Di senyap malam tanpa suara,
aku menatap bayang di kaca,
bukan wajah yang kutanya,
melainkan jiwa yang kian hampa.
Siapa aku dalam riuh dunia?
Bukan nama, bukan rupa.
Bukan gelar, bukan kata,
tapi batin yang kerap terlupa.
Kucari terang dalam gelap,
saat lelah tak sanggup lenyap.
Ternyata bukan dunia yang salah,
melainkan aku yang jauh melangkah.
Kesadaran datang perlahan,
seperti embun yang jatuh diam-diam.
Menghapus jejak keangkuhan,
menyiram akar keikhlasan.
Kini kusambut diriku sendiri,
bukan untuk dibenahi, tapi dipahami.
Tak sempurna, namun berarti,
dalam luka pun bisa berdiri.
-00-
0 Comments