Ada saat dalam
hidup ketika seseorang berkata, “aku gak bisa berbuat apa-apa,”
dan sering kali itu bukan pengakuan atas ketidakmampuan, melainkan kelelahan
jiwa yang terlalu lama memikul harapannya sendiri.
jika kau sedang mengalami itu,
Berhentilah sejenak.
berhenti untuk istirahat, Bukan untuk menyerah. tapi untuk mengenali dirimu
untuk sesaat berkontemplasi :
apa benar tidak ada yang bisa diperbuat,
atau justru karena terlalu banyak yang ingin dikuasai sekaligus dalam satu
waktu?
Imam yang arif pernah mengingatkan, bahwa kebinasaan manusia bermula dari
keinginannya menjadi pengatur takdir,
padahal ia sendiri adalah bagian kecil dari takdir itu.
Maka ketika mulutmu berkata “aku tak bisa,”
barangkali yang perlu dibenahi bukan keadaan, melainkan tuntutan yang kau
letakkan pada dirimu.
Lihatlah dengan kenyataan yang apa adanya :
karena ada perkara yang memang berada di luar genggaman, dan ada perkara yang
sengaja kau tinggalkan karena tampak remeh di matamu.
Padahal sering kali keselamatan jiwa
bermula dari perbuatan yang paling kecil dan mungkin yang tampak paling tidak
penting dimata orang lain.
Jika engkau tak mampu mengubah keadaan, ubah caramu berdiri di hadapannya.
Jika engkau tak sanggup memperbaiki dunia, perbaiki niatmu saat menghadapinya.
Sebab kekuatan pertama manusia
bukan pada hasil, melainkan pada sikap menerima dengan kesadaran bahwa itulah
kenyataan yang ternyata sangat nyata tanpa perlu kau khianayi kenyataan itu.
Diam pun adalah perbuatan, jika diisi dengan kesadaran.
Menunggu pun adalah amal, jika tidak disertai keluh.
Dan mengaku lemah adalah pintu paling awal menuju kekuatan, selama ia tidak
berubah menjadi alasan untuk berhenti bertumbuh.
Maka ketika kalimat "aku gak bisa berbuat apa-apa”, keluar dari mulutmu.
Tanyakan kembali pada hatimu:
apa yang bisa kuluruskan hari ini,
meski hanya satu niat,
meski hanya satu doa,
meski hanya satu langkah kecil
yang tidak ingin dilihat siapa pun
selain Tuhan.
Karena sering kali,
yang benar-benar tak bisa berbuat apa-apa
bukanlah orang yang lemah,
melainkan orang yang menolak melihat
bahwa keterbatasan adalah bagian dari hikmah,
bukan tanda kegagalan.
Dan di sanalah,
jiwa yang jujur mulai pulang ke dirinya sendiri

0 Komentar