![]() |
Suber: Pribadi |
Perjalanan menuju Curug Gomblang memakan waktu sekitar 30 menit dari pusat kota. Jalanan menanjak dan berliku, tapi dikelilingi hutan pinus yang membuat suasana sejuk dan asri. Kahfi tak henti-hentinya menunjuk, terkagum-kagum melihat hijaunya alam di kaki Gunung Slamet.
Setibanya di sana, suara gemuruh air menyambut kami. Curug Gomblang tidak terlalu tinggi, tapi punya pesona tersendiri. Aliran airnya jernih, mengalir turun di antara bebatuan besar dan dikelilingi pepohonan yang rimbun.
Kahfi langsung berlari ke tepian aliran air, mencelupkan tangannya sambil berseru, “Ayah, airnya dingiiin banget!” Saya hanya tertawa sambil mengeluarkan bekal dari tas.
Kami duduk di atas batu besar, menikmati nasi goreng dan teh hangat sambil memandangi curug dari kejauhan. Di sela-sela makan, Kahfi bercerita tentang cita-citanya ingin jadi penjelajah alam, tinggal di hutan, dan menulis buku tentang petualangannya sendiri.
Setelah itu, kami bermain air sebentar. Saya menggandeng tangannya saat ia melangkah di batu-batu licin. Wajahnya begitu bahagia, matanya berbinar meski bajunya sudah basah kuyup.
Menjelang sore, kabut tipis mulai turun. Kami duduk berdua, memandangi curug yang mulai diselimuti embun.
“Ayah, Curug Gomblang keren banget. Minggu depan kita ke sini lagi, ya?” katanya pelan sambil bersandar di lengan saya.
Saya tersenyum, mengangguk. “Boleh, Nak. Asal kamu bantu ayah jaga kebersihannya.”
Hari itu bukan sekadar liburan. Itu adalah momen sederhana, tapi penuh makna tentang alam, kebersamaan, dan tawa yang tak akan kami lupakan.
0 Comments