Kadang aku malu...
Bukan karena aku pendosa.
Tapi karena aku nyaman jadi pendosa
di hadapan Tuhan yang terus-menerus mencinta.
—
Aku bilang,
“Besok aku tobat.”
Tapi malam ini, aku sengaja menunda.
Padahal jantungku belum tentu bertahan sampai pagi.
—
Aku bilang,
“Tuhan itu Maha Pengampun.”
Tapi aku pakai itu sebagai alasan untuk ulangi dosa yang sama.
Aku pernah baca,
Tuhan lebih dekat dari urat leher.
Tapi faktanya, aku lebih sering genggam ponsel
daripada sejadah.
—
Tuhan sering panggil lewat adzan.
Tapi aku malah jawab dengan tunda.
Dan saat dunia memanggil, aku lebih sering takut kehilangan kesempatan.
—
Aku sadar...
yang paling setia menungguku,
adalah yang paling setia menuntunku.
Yang paling setia kutunda,
adalah yang paling dulu datang saat aku hancur.
—
Dan sekarang,
di titik ini,
aku takut malu...
takut suatu hari,
Tuhan berhenti mencintaiku.
Padahal yang salah dari dulu... cuma aku.
—
Aku hidup dari udara-Nya.
Tapi aku pakai napas itu untuk mencintai selain-Nya.
Aku pakai sehat yang Dia titipkan,
untuk kuat memperjuangkan yang makin menjauh.
Aku pakai waktu yang Dia tambahkan,
untuk makin jauh dari-Nya, bukan makin dekat.
—
Tuhan,
aku malu mencintai-Mu,
karena, aku mencintai-Mu,
hanya saat kecewa.
Hanya saat sakit.
Hanya saat ada lagi yang mau mengasihiku selain Engkau.
—
Tapi jika Engkau masih mencintaiku...
di tengah semua pura-pura ini,
di tengah semua doa yang kosong,
di tengah semua tobat yang setengah hati ini...
Maka izinkan aku malam ini,
menangis di hadapan-Mu,
bukan karena kelulutan,
tapi karena merasa begitu hina dicintai-Mu tanpa syarat, sementara aku bahkan mencintai-Mu dengan jutaan syarat.
—
Dan jika...
masih ada waktu,
masih ada napas,
masih ada pintu ampunan yang belum ditutup, biarkan aku mengejarnya...
dengan seluruh sisa sadar yang Kau anugerahkan.
09-09-2005
09-09-2005

0 Komentar