Kita hidup di dunia yang tak pernah berjanji untuk menjadi rumah.
Segalanya bergerak, berganti wajah, lalu meninggalkan kita dengan keheningan yang ganjil.
Di sanalah, asing mengulurkan tangannya.
Asing tidak selalu datang dari jauh.
Ia bisa muncul dari wajah yang pernah kau ciumi dengan doa, atau dari nama yang dulu kau ukir di pelosok dada.
Yang dulu kau yakini tak akan pernah hilang, hari ini bahkan tak mampu kau panggil kembali tanpa rasa kikuk.
Dan lihatlah, dia yang kini ada dalam dekapmu — dulu juga seorang asing.
Hanya karena waktu menyulamnya dengan kebersamaan, kau mengira jarak telah lenyap.
Padahal yang terjadi hanyalah penundaan:
suatu hari, ia akan kembali berdiri di seberang, menjadi asing seperti semua yang lain sebelumnya.
Asing adalah bahasa semesta.
Ia membisikkan, “Jangan menetap.”
Ia mengingatkan, “Jangan menggenggam terlalu erat.”
Sebab dunia ini hanyalah lorong singkat,
dan kita, sejak awal, hanyalah pengembara.
hanyalah 'orang asing'.
.
dunia ini dari dulu sudah seperti ini,
Maka jangan takut pada asing.
Sebab di balik segala yang menjauh,
ada Yang Mahadekat
yang tak pernah membiarkanmu benar-benar sendiri.
---
0 Comments