
Harap atau takut.? ataukah
harus keduanya.
disini akan kita bahas 3 contoh,
silahkan simak.
1. Contoh : harap tanpa takut.
Ia berkata dalam hatinya, “Allah Maha Pengampun.”
Lalu ia ulangi dosanya, tanpa ada niat untuk berhenti.
Ini bukan harap, tapi kelalaian. Dalam istilah Abu Hamid al-Ghazali, ini adalah
merasa aman dari konsekuensi.
Seperti seorang murid yang yakin akan lulus karena gurunya, lalu tidak pernah
belajar. Harapnya tanpa takut membuat ia semakin bodoh, dan meninabobokan.
2. Contoh : takut tanpa harap.
Ia berkata, “Dosaku terlalu besar, Allah tak akan mengampuniku.” Akhirnya ia
mencegah niatnya untuk kembali karena terlalu takut pada tuhan, berhenti
berdo'a dan tak berhenti berdosa
Ini bukan takut yang sehat, tapi keputusasaan. Seperti orang yang jatuh ke
lumpur, lalu karena merasa sudah kotor, ia sekalian berbaring di dalamnya dan
mandi tanpa ada niat lagi membersihkan diri. di sini 'takut' tidak lagi menjaga
dirinya dari kerusakan, tapi malah menghancurkan.
3. baiknya, takut dan harap yang seimbang.
Ia berkata, “Aku takut akan akibat dari dosaku… tapi aku juga yakin pintu
ampunan belum tertutup.”
Maka ia berhenti dari dosa karena takut dosa itu akan mencelakakan dirinya,
lalu kembali kepada tuhannya karena harap bahwa tuhan akan menerima nya pulang.
Ini seperti seorang anak yang bersalah pada ayahnya. Ia takut dimarahi, tapi ia
tahu ayahnya masih mencintainya. Karena itu ia tidak kabur, tapi segera pulang
dan memohon ampun.
Harap itu seperti cahaya yang membuatmu melihat jalan pulang. Takut itu seperti
rem yang mencegahmu masuk jurang.
Kalau hanya ada cahaya tanpa rem, engkau bisa melaju kencang… tapi jatuh.
Kalau hanya ada rem tanpa cahaya, engkau tidak bergerak… dan tersesat dalam
gelap.
Maka takut itu seperti penjaga di pintu harap : kalau terlalu lemah, engkau
masuk tanpa adab.
kalau terlalu keras, engkau tidak berani masuk sama sekali.
Sekarang ini, mungkin diri kita sendiri, teman atau kerabat, banyak dari kita
merasa “berharap kepada Allah”, tapi menunda kembali.
dan banyak juga yang merasa dirinya “takut kepada Allah”, padahal yang ia
rasakan hanyalah putus asa yang dibungkus religiusitas.
Pertanyaannya bukan lagi “mana yang benar?”
tapi, rasa yang kau miliki saat ini, apakah rasa itu mendorongmu mendekat, atau
justru menjauh?

0 Komentar