Merasa Benar, Belum Tentu Tindakannya Pasti Benar

Kadang kita merasa begitu yakin akan sesuatu—terutama ketika emosi sedang kuat: marah, kecewa, atau terluka. Tapi apakah setiap rasa benar selalu melahirkan tindakan yang benar pula? Tidak selalu.

1. Perasaan Itu Anugerah, Bukan Dalih

Dalam tasawuf, perasaan adalah tanda bahwa hati masih hidup. Marah, sedih, kecewa, atau cemburu semuanya sah adanya. Tidak perlu dipungkiri. Namun seorang sufi tahu, perasaan hanyalah tamu di dalam hati—datang dan pergi.
Maka, perasaan tidak bisa dijadikan dalih untuk melakukan kesalahan.

2. Hati Boleh Bergetar, Laku Harus Tetap Terkendali

Imam Al-Ghazali menjelaskan bahwa nafsu sering memanfaatkan perasaan untuk menjerumuskan manusia ke perbuatan dosa.
Misalnya:

Marah → memukul

Kecewa → menyakiti balik

Sedih → melampiaskan pada hal yang dilarang

Seorang sufi mengajarkan: kendalikan tangan, lidah, dan langkahmu meski hatimu sedang panas. Karena perasaan adalah cobaan, sementara perbuatan akan dihisab.

3. Memisahkan Rasa dan Aksi

Banyak orang gagal di sini. Mereka merasa benar, lalu yakin tindakannya pun benar. Padahal tidak semua rasa perlu jadi aksi.

Kau boleh merasa marah, tapi jangan memaki.
Kau boleh merasa kecewa, tapi jangan dendam.
Kau boleh merasa cinta, tapi jangan sampai melanggar batas.

Ilmu hikmah sufi: perasaan itu gejolak jiwa, tindakan itu kenyataan.

4. Perasaan Menggoda, Syaratnya Menjaga

Dalam Islam, syariat adalah pagar. Perasaan bisa mendorong kita keluar jalur, tetapi syariat menuntun agar kita tetap lurus.
Rasulullah ï·º bersabda:

“Orang kuat bukanlah yang menang dalam gulat, tetapi yang mampu mengendalikan dirinya ketika marah.”
(HR. Bukhari & Muslim)

Jadi kekuatan sejati bukan pada melampiaskan perasaan, tapi menaklukkannya dalam bingkai syariat.

5. Rumus Sufi: Jernihkan Hati, Luruskan Laku

Seorang sufi pernah berkata:

“Hati boleh mendung, tapi jangan biarkan tangan menabur badai.”

Artinya, kita boleh merasakan apa pun—itu fitrah. Tapi yang dinilai Allah adalah apa yang kita lakukan setelah perasaan itu hadir.


Kesimpulan

Merasa benar itu fitrah manusia.
Namun bertindak benar adalah tanggung jawab di hadapan Allah.
Ukuran hidup bukan sekadar apa yang kau rasa, tapi apa yang kau lakukan setelahnya.

0 Komentar