Topeng Dunia



Di jalan-jalan penuh cahaya neon,

manusia berarak dalam parade kepura-puraan.

Senyum dipasang, luka disimpan.

Semua saling sapa tanpa benar-benar kenal.


Yang hidup dari validasi,

berdoa bukan untuk damai,

tapi untuk dilihat saleh di layar yang datar.

Iman dijadikan caption,

tapi hati masih lapar akan pengakuan.


Di ruang rapat dan pesta megah,

kata "tulus" tinggal hiasan bibir.

Semua memoles citra,

tapi lupa membersihkan jiwa.


Yang salah bisa menang asal fasih bicara.

Yang benar disingkirkan terlalu polos, katanya.

Kebenaran kini kalah suara

oleh yang bersuara paling lantang, bukan paling jujur.


Kita diajari untuk tampil, bukan menjadi.

Disuruh kuat, tapi tak pernah diajari pulih.

Dunia mengagungkan pencitraan,

lalu menertawakan yang tulus sebagai

"terlalu polos untuk zaman sekarang."


Aku muak,

bukan pada dunia tapi pada diri sendiri yang pernah ikut tepuk tangan

untuk hal-hal yang sebenarnya palsu sejak awal.


-00-

Konten ini telah tayang di Kompasiana.com dengan judul "Topeng Dunia", 



0 Komentar