Orang sering salah sangka,
mereka kira santri menghormati kiai karena fanatik,
padahal santri menghormati kiai karena 'logis.'
mereka kira santri menghormati kiai karena fanatik,
padahal santri menghormati kiai karena 'logis.'
Begini logika santri:
Jika ilmu adalah cahaya, dan guru adalah lentera,
maka menghormati guru adalah cara menjaga agar cahaya itu tidak padam.
Santri tahu,
ilmu tidak datang dari kecerdasan semata,
tapi dari keberkahan.
Dan keberkahan itu punya jalur, punya adab, punya arah.
Tidak bisa dipetik sembarangan seperti buah liar di tengah hutan ego.
ilmu tidak datang dari kecerdasan semata,
tapi dari keberkahan.
Dan keberkahan itu punya jalur, punya adab, punya arah.
Tidak bisa dipetik sembarangan seperti buah liar di tengah hutan ego.
Santri menghormati guru bukan karena menganggap gurunya suci,
tapi karena tahu — dari gurunya lah mengalir pengetahuan tentang Dzat Yang Maha Suci.
Jika air ilmu itu mengalir dari sumber,
maka menjaga sumbernya adalah bagian dari menjaga kejernihan.
tapi karena tahu — dari gurunya lah mengalir pengetahuan tentang Dzat Yang Maha Suci.
Jika air ilmu itu mengalir dari sumber,
maka menjaga sumbernya adalah bagian dari menjaga kejernihan.
Maka, ketika santri menunduk, itu bukan tanda taklid buta,melainkan bentuk kesadaran bahwa akal pun punya etika ketika mendekati cahaya.
Sebab cahaya yang terlalu terang bisa membakar mata, jika tidak ada tangan guru yang menuntun cara memandangnya.
Sebab cahaya yang terlalu terang bisa membakar mata, jika tidak ada tangan guru yang menuntun cara memandangnya.
Tapi anehnya,bagi sebagian orang yang pikirannya mabuk oleh konsep “kebebasan berpikir”,
sikap menunduk santri dianggap feodal.
menghormati ilmu, dianggap 'ngesot',
sikap menunduk santri dianggap feodal.
menghormati ilmu, dianggap 'ngesot',
Padahal, mereka pun juga 'menunduk,'
namun, bukan kepada guru, tapi kepada ego, tren, likes, comment, popularitas dan kebanggaan semu yang mereka namai “independensi.”
namun, bukan kepada guru, tapi kepada ego, tren, likes, comment, popularitas dan kebanggaan semu yang mereka namai “independensi.”
Santri itu bukan tidak berpikir kritis,
justru karena mereka berpikir kritis, maka tahu bahwa tidak semua hal bisa diukur dengan logika yang kering.
justru karena mereka berpikir kritis, maka tahu bahwa tidak semua hal bisa diukur dengan logika yang kering.
Ada ruang halus dalam ilmu,
tempat logika berlutut kepada adab.
Itulah yang disebut oleh seorang guru:
“Ilmu tanpa adab adalah kesesatan,
dan adab tanpa ilmu adalah kebingungan.”
tempat logika berlutut kepada adab.
Itulah yang disebut oleh seorang guru:
“Ilmu tanpa adab adalah kesesatan,
dan adab tanpa ilmu adalah kebingungan.”
Santri memilih jalan di antara keduanya:
berilmu dengan adab, beradab dengan ilmu.
berilmu dengan adab, beradab dengan ilmu.
Dan jika di mata dunia itu disebut feodal,
biarlah.Lebih baik disebut feodal karena menghormati,
daripada disebut bebas tapi kehilangan rasa suci terhadap ilmu.
biarlah.Lebih baik disebut feodal karena menghormati,
daripada disebut bebas tapi kehilangan rasa suci terhadap ilmu.
Karena bagi santri,
menghormati guru adalah bagian dari menghormati Tuhan, sebab dari lisannya sang guru lah terbit pengetahuan tentang-Nya.
menghormati guru adalah bagian dari menghormati Tuhan, sebab dari lisannya sang guru lah terbit pengetahuan tentang-Nya.
Dan menghormati pengetahuan tentang Tuhan berarti menjaga agar hati tetap layak menerima cahaya-Nya.
Itulah logika santri.
dan untuk saudaraku para santri,
entah jadi siapapun engkau kini,
aku ucapkan selamat hari santri,
tetap jaga negeri, dan jangan lupa pada pesan nabi ;
'ummatii, ummatii'
---

0 Komentar